-->

Magang Akan Tetapi Tidak Dibayari, Mau Kerja atau Dikerjain?

Magang Akan Tetapi Tidak Dibayari, Mau Kerja atau Dikerjain?

Magang Akan Tetapi Tidak Dibayari, Mau Kerja atau Dikerjain?


Saat sebelum masuk ke industri kerja, magang atau internship jadi langkah paling mudah saat pengalaman kerja kamu belum juga memenuhi, namun tetap perlu pengalaman kerja seperti seorang karyawan full-time.

Pengalaman internship pasti jadi perbekalan penting, terutamanya untuk beberapa fresh graduate yang telah lulus tetapi tidak pernah mencicip dunia kerja sama sekalipun.

Umumnya, perusahaan mengaplikasikan dua tipe program magang atau internship, yakni paid dan unpaid internship.


Ketentuan internship dalam perundang-undangan

Pemerintahan sebetulnya telah atur berkenaan pemagangan melalui Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 mengenai Ketenagakerjaan, dan Pasal 10 ayat (2) Permenaker 6/2020 tentang Penyelenggaraan Pemagangan di Dalam Negeri.

Menurut Pasal 10 ayat (2) Permenaker 6/2020 tentang Penyelenggaraan Pemagangan di Dalam Negeri, perjanjian pemagangan memuat:

  • hak dan kewajiban anak pemagangan;
  • hak dan kewajiban penyelenggara pemagangan;
  • program pemagangan;
  • jangka waktu pemagangan; dan
  • besaran uang saku

Tetapi kenyataannya, ada banyak perusahaan yang mengaplikasikan unpaid internship. Entahlah untuk tekan anggaran untuk pegawai buat mendapatkan margin keuntungan yang optimal, sampai modus mendapatkan tenaga kerja yang murah karena tidak perlu memberikan uang belanja.


Bukti yang banyak terjadi mengenai unpaid internship


Selainnya tidak mendapatkan uang belanja, beberapa dari anak magang ini sebagai ‘sapi perah' yang murah dan meriah alias dieksplorasi oleh perusahaan, karena beban kerja mereka besar sekali serta serupa dengan karyawan masih tetap.

Karena beban dan tanggung-jawab kerja semestinya lurus sebanding dengan pendapatan. Telah bayarannya tidak ada, kerja lembur jadi teman dekat. Kan kasihan, ya?

Janganlah sampai kamu terjerat dalam eksplorasi perusahaan yang tidak bertanggungjawab, karena itu ada banyak hal yang penting jadi perhatian, misalnya:

  • Lebih cermat dalam menyaksikan lowongan kerja dan job description, harus kepoin lebih detil apa magang itu berbayar atau mungkin tidak.
  • Menyaksikan lebih detil kembali mengenai kesepakatan kerja kamu. Dapat menjadi yang awalannya dicatat paid, rupanya unpaid. Yakinkan kembali, ya!

Apa yang dapat dilaksanakan? Take it or leave it?


Bila kamu memilih untuk masih tetap ambil unpaid internship, yakinkan beban kerjamu tidak terlalu berlebih dan masih batasan lumrah seperti anak magang. Karenanya magang tanpa dibayarkan, tentu saja beban kerjanya berlainan dengan karyawan masih tetap.


Kira saja unpaid internship ini ibarat pelatihan dan training kerja gratis.


Kerja suka-rela, tetapi bisa sertifikat dan pengetahuan yang berguna, dan tutor, bos, dan networking yang bagus. Ini benar-benar bermanfaat untuk profesi ke depanmu nantinya.


Apa lagi jika magang kamu karakternya WFH, remote, atau dapat ditangani dari rumah, dan masih tinggal bersama orang-tua. Lebih gampang, murah, dan fleksibel.

Tetapi, masih tetap lihat ada ‘red flag' atau pertanda yang tidak kelar dari perusahaan itu.

Bila kamu pada akhirnya masih tetap jalankan unpaid internship tetapi perusahaan tersebut memberimu keuntungan lain di luar uang belanja, dan mempunyai kultur kerja yang suportif, kemungkinan menjadi pemikiran.

Beda hal bila perusahaan itu tidak bayar uang belanja, memutar otak dan keringat anak magang secara tidak lumrah, apa lagi mempunyai lingkungan yang toxic, ini yang penting disorot dan dijauhi.

Itu beberapa bukti berkenaan unpaid internship. Baik itu magang berbayar atau mungkin tidak, ke-2 nya punyai kekurangan dan keunggulannya masing-masing.

Yang perlu, kamu menjalankannya secara baik dan serius untuk perjalanan profesimu di depan. Selamat tempuh dunia kerja!

LihatTutupKomentar